Eksistensi Perempuan di Dunia Lelaki

JAKARTA – Bersantai sehabis kesibukan kerja, menikmati alunan musik jazzy menjelang malam. Ketika semua orang kantoran bergegas pulang, saya justru ingin menikmati masa istirahat di saat petang beranjak malam. Saya sendirian saja, berada di sebuah kafe yang menurut rekomendasi seorang kawan cukup nyaman untuk bersantai selepas kerja dan mencoba menikmati relaksasi. Sambil mencicipi cappuccino hangat, saya merasa kenyamanan yang meredam kepenatan sebelumnya.

Walau ada beberapa kelompok pengunjung yang asyik berbincang di sebelah sana, mungkin mereka juga menikmati rehat usai kerja seperti saya, dengan mata agak terpejam, saya mengangankan berbaring di sebuah pantai, dengan limpahan sisa ombak yang maju mundur membasahi kaki saya. Kemudian, terdengar sapaan pelan menyela angan-angan saya, ‘’Maaf, sepertinya Anda sendirian saja mbak? Saya juga sendirian. Mungkin saya bisa jadi teman ngobrol Anda. Bagaimana?’’

Saya melihat seorang pria dewasa yang cukup tegap, membuka percakapan sambil mencoba membuat kesan. ‘’Ya, saya sendirian. Tapi, maaf saya memang lagi ingin sendirian,’’ jawab saya mencoba menutup peluang yang menghalangi niat saya untuk relaksasi.

Sekitar 10 menit kemudian, kembali terdengar suara menyapa. ‘’Sorry bila saya lancang, tapi Anda cukup lama sendirian saja. Sepertinya Anda butuh teman untuk berbagi perasaan. Bila ada masalah dengan pacar, easy going saja zus, kita bisa mencari jalan keluarnya,’’ sapa seorang lelaki berbusana kasual yang segera mengulurkan tangan untuk berjabatan.

Kata ‘’kita’’ yang diucapkannya segera membuat saya waspada, karena jelas dia berusaha menarik saya ke dalam lingkarannya. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh para lelaki seperti ini bila mereka melihat seorang perempuan dewasa sendirian di sebuah kafe? Apakah kafe bukan lagi sebuah tempat publik yang terbuka untuk dihadiri secara bebas oleh siapa saja?

Memang ada kafe yang bisa digolongkan sebagai tempat berkumpul komunitas masyarakat tertentu. Namun, berdasarkan informasi yang saya dapat, kafe ini benar-benar netral, malah cukup beken sebagai tempat bersantai bagi mereka yang ingin melewatkan waktu dengan view kota atas Semarang, sambil mendengar alunan musik jazz.

Hak untuk Sendiri
Apakah keberadaan saya yang sendirian di kafe ini justru yang membuat saya tak bisa menikmati kesendirian? Saya heran, apakah seorang perempuan tak layak melakukan semua aktivitas yang disukainya seorang diri? Apakah dia selalu butuh kehadiran lelaki, bila dia bisa melakukan sendiri semua yang ingin dikerjakan? Di sisi lain, apa yang janggal dari fakta bahwa seorang perempuan yang sendirian di ruang publik untuk menikmati kesenggangan?

Bukankah sebagai warga masyarakat, dia punya hak sepenuhnya? Apa yang ditafsirkan lelaki bila seorang perempuan nampak sendirian saja? Apakah ini selalu berarti bahwa perempuan butuh ‘’teman’’, ‘’pelindung’’ atau apa pun istilah yang muncul dari pemikiran sepihak para lelaki? Ataukah seorang perempuan yang sendirian saja di kafe selalu ditafsirkan sebagai insan kesepian yang keberadaannya mengisyaratkan ‘’undangan’’?

Saat hal ini saya ceritakan lagi pada teman sekantor saya, dia berkata, ‘’Ya, kamu jangan datang sendirian dong. Orang kan masih belum terbiasa melihat perempuan sendirian di kafe.’’ Saya mengeluhkan pendapat ini, yang justru muncul dari seorang perempuan yang punya intelektualitas tersendiri, karena dia lulusan universitas dengan IP yang lumayan. Namun, dia masih saja terpengaruh pemikiran yang membagi dunia dan segala hal dalam wilayah perempuan dan lelaki.

Benar pendapat yang menyebutkan bahwa banyak perempuan yang tidak siap memperjuangkan eksistensinya sendiri di dunia yang selama ini berada dalam dominasi kaum lelaki.

Buku John Gray yang berjudul Men Are From Mars, Women Are From Venus, misalnya, menyebutkan bila gaya bercakap lelaki itu lugas dan fungsional, dengan tuturan dan ekspresi jelas. Sementara perempuan cenderung bicara lembut, namun dengan muatan gaya yang dibuat-buat untuk memikat perhatian. Bukankah ‘’mitos’’ pemikiran seperti menyekap eksistensi perempuan? Padahal, studi etnografis tentang perempuan muda dan mahasiswa universitas di Los Angeles menunjukan betapa para gadis ini justru bertindak lebih konfrontatif, sedangkan para mahasiswanya lebih senang ngerumpi.

Ada buku lainnya yang menyebutkan bila perempuan bicara tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan lelaki. Bahkan, menghitung perempuan bicara 20.000 kata sehari, dibandingkan dengan lelaki yang hanya mengucapkan 7.000 kata dalam tempo yang sama.

Tentu saja data ini hanyalah faktoid yang buktinya nol besar. Walau kelembutan perempuan dimuliakan dengan sebutan seperti Bunda Alam, misalnya, mereka bisa sama tangkasnya dengan lelaki. Baik sebagai kreator, ahli hukum, penyembuh, pemburu, bahkan sebagai panglima perang.

Eksistensi perempuan sepanjang sejarah pun terbukti bila mereka bisa tampil prima, dengan wacananya dan segenap potensi yang ada. Dengan berbagai fakta sejarah seperti ini, masihkah perempuan tidak pede untuk tampil sendiri di ruang publik? Masihkah mereka ragu menonjolkan eksistensi diri sendiri, dan masih berlindung di balik bayangan lelaki?

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s