Perempuan dalam Incaran

SEMARANG – PEDAGANGAN manusia (human trafficking) telah menjadi masalah global. Hampir setiap negara mengalami masalah itu. Bahkan, seperti Amerika Serikat dan negara maju lainnya, belum terlepas dari belitan trafficking, dengan angka lebih dari 25.000 orang yang menjadi korban setiap tahunnya.

Pada 2000 saja diperkirakan ada 2 juta perempuan dan anak-anak yang diselundupkan di seluruh dunia. Sebanyak 300.000 di antaranya terjadi di negara-negara Asia Tenggara. Juni 2003, Bureau of Public Affairs, US Departemen of Sate menggambarkan penyelundupan manusia untuk memasok pasar perdagangan seks internasional, setiap tahunnya meningkat pada angka 900.000 jiwa.

Kalau rajin melongok data yang di-sajikan berbagai media massa, kita akan tercengang berhadapan dengan data yang mengemuka. Lembaga Intelejen AS (CIA) misalnya, melaporkan peningkatan trafficking secara pesat dalam berita berjudul ”Vast Trade in Forced Labor Portrayed in CIA Report.” ( Dimuat dalam The New York Times 2 April 2000)

Disebutkan bahwa setiap tahun sekitar 50.000 perempuan dan anak-anak dari Asia, Amerika Latin, dan Eropa Timur, ke AS dengan alasan palsu untuk kemudian ditipu dijadikan pekerja seks, buruh kasar yang tak ubahnya sebuah perbudakan di zaman modern ini. Para korban ini biasanya berasal dari kalangan rakyat miskin yang dipikat dengan janji manis untuk mendapat pekerjaan dengan upah yang lebih banyak daripada upah yang mereka terima bila bekerja di negeri sendiri.

Namun, tak jarang para korban berasal dari kalangan terdidik di kelas menengah, yang terpikat oleh iklan lowongan pekerjaan di Amerika pada bidang-bidang pekerjaan yang tak sukar dijalani oleh para perempuan, seperti pekerjaan administrasi kantor, bidang pemasaran, sekretaris, atau waitress.

Iklan memukau seperti ini tentu saja menarik perempuan yang ingin meraih kehidupan yang lebih baik, atau ingin mendapatkan pengalaman hidup yang baru. Sebagian besar dari para perempuan muda ini berasal dari Thailand, Vietnam, China, Meksico, Russia, dan Republik Czech. Setelah mereka tiba di sana, ternyata mereka tak dipekerjakan pada bidang yang diiklankan. Sebaliknya, para korban kemudian disekap, dikawal ketat, lalu dipaksa untuk menjadi pelacur atau pekerja rodi lainnya.

Pola penipuan seperti ini telah menjadi jurus klasik para penyelenggara perdagangan perempuan di mana saja, termasuk di Indonesia. Dengan cara pelaksanaan (modus operandi) yang semakin canggih. Dalam sebuah talk show tentang liku-liku trafficking di sebuah saluran TV swasta, terungkap bila para bos trafficking punya jaringan lintas negara, dengan pengaturan yang cukup canggih. Mereka tak saja menyebar ribuan agen untuk bergerak ke berbagai pelosok pedesaan dan merayu calon korban dengan mimpi-mimpi yang gemerlapan, namun juga berkedok dengan mendirikan berbagai perusahaan penyalur lapangan kerja atau pemandu bakat.

”Ingin menjadi penyanyi karaoke di Jepang dengan penghasilan setara 25 juta per bulan,” begitu antara lain bujukan yang diserukan dalam berbagai iklan kecik yang mereka pasang di berbagai koran.

Fakta Mengerikan
Dalam arus migrasi gelap seperti ini, apa yang disebut ‘’femininisasi migrasi’’, yang mengambil sasaran khusus para perempuan, pada bidang kerja yang bersifat seksual, perbudakan, dan penelantaran, semakin menguat. Fakta pendukung di balik setiap aksi ini adalah anggapan bila kaum perempuan, anak-anak, dan para gadis adalah mangsa yang lemah.

Dalam Rancangan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, memang disebutkan bahwa istilah trafficking tidaklah melulu terbatas pada mereka yang dibawa untuk dieksploitasi secara seksual, tetapi juga punya cakupan makna secara lebih luas, misalnya juga dieksploitasi tenaganya.

Sebuah laporan Komisi Nasional Perlindungan Anak 2005 menyatakan, fenomena perdagangan orang semakin mencemaskan, terutama setelah krisis ekonomi dan bencana alam terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Sasaran yang mereka jerat pun semakin beragam. Misalnya, dari 6.750 perempuan yang dilacurkan di Malaysia, 62,7% atau sekitar 4.200 perempuan berasal dari Indonesia. Dari jumlah itu, 40% berusia di bawah 18 tahun, batas usia untuk kriteria anak-anak menurut ILO.

Pada banyak kasus, korban trafficking selain dipaksa untuk melacurkan diri, tak jarang juga dijadikan pekerja dengan pemenuhan hak sangat minim. Bahkan, ada fakta yang lebih mengerikan: bila terjadi konflik, kadang mereka dibunuh dan organ tubuhnya diambil untuk diperdagangkan.

Korban trafficking yang umumnya kaum perempuan dan anak-anak di bawah umur juga dipandang sebagai mangsa empuk kejahatan, yang gampang diperdaya dan tak punya cukup kegigihan untuk melawan.

Kondisi sosial seperti kemiskinan atau masalah pribadi seperti kurangnya pengalaman, sepertinya saling jalin-menjalin dengan ambruknya sistem ekonomi dan kian melonggarnya tatanan sosial, Dampaknya semakin banyak anak, gadis, atau kaum perempuan yang menjadi korban dan dijadikan instrumen untuk menghasilkan pendapatan.

Hal seperti ini pun terkait erat dan didukung diskriminasi gender, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Ada kenyataan lain yang tak terduga dan cukup mengejutkan, walau kecil persentaasinya, bahwa cukup banyak para korban ini yang terjebak karena berupaya melarikan diri dari ketidakadilan gender atau kehidupan yang takmenyenanglan, seperti beban kerja yang terlalu berat di rumah.

Dalam sebuah talk show, salah satu korban trafficking mengaku awal mula terjeratnya dia dalam mata rantai perdagangan manusia, adalah karena lari dari rumah, sebagai perlawanan atas upaya orang tuanya untukmenikahkan dia dengan seseorang yang tak dicintainya.

Perempuan tak saja masih menjadi incaran dari luar untuk dijadikan korban, namun ancaman itu kadang muncul dari dalam. Dalam lingkungannya, dari keluarganya. (Muldian Sari)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s