Saatnyakah Semarang Dipimpin Perempuan?

SEMARANG – Pembangunan Kota Semarang harus terus berkelanjutan. Anggaran untuk itu juga boleh lebih kecil dibandingkan dengan anggaran belanja aparat. Untuk mewujudkan hal itu, perlu sentuhan khusus. Salah satunya adalah membangun yang lebih terprogram, berpihak kepada masyarakat dan daerah, konsisten dan berkesinambungan dengan orientasi yang jelas, serta positif.

Demikian halnya pembangunan berbasis pemberdayaan perempuan dan keluarga, perlu mendapat perhatian dan dilaksanakan lebih serius. Pemberdayaan masyarakat perlu dilaksanakan secara total, agar masyarakat dapat ikut aktif dalam kegiatan pembangunan, bukan sekadar jadi objek. Keharusan itu membutuhkan analisis positif dan realistis terhadap berbagai kebutuhan masyarakat Kota Semarang.

Orang-orang di pemerintahan seringkali merasa rikuh menolak hal-hal yang tidak pas dengan norma pembangunan. Sayangnya, saat ada penyimpangan selalu ada yang harus dijadikan korban, sedangkan yang mestinya bertanggung jawab, tidak bertanggung jawab.

Perubahan
Imbasnya akan membuat pemerintahan tidak berjalan optimal. Keadaan seperti ini bisa berubah dengan drastis jika ada perubahan drastis dalam pemerintahan di Kota Semarang. Sudah saatnya pimpinan di Kota Semarang dipegang oleh perempuan. Jika perempuan menjadi wali kota atau sekretaris daerah, pembangunan bisa lebih terberdayakan.

Bila selama ini kepemimpinan di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang selalu berada di bawah pimpinan pria, terutama wali kota dan sekretaris daerah, tentu tidak ada salahnya jika Kota Semarang mulai menggagas untuk dipimpin perempuan. Karena itu, mengapa perempuan tidak diorbitkan? Gagasan ini minimal untuk posisi kepemimpinan di level pemerintahan tingkat sekretaris daerah. Mengapa minimal di tingkat sekretaris daerah?

Sekretaris daerah adalah jabatan karier, nonpolitik, dan harus dijauhkan dari intervensi politik, serta berasal dari lingkungan Pemkot Semarang.  Sekretaris daerah pada dasarnya memiliki posisi yang sangat strategis dalam menentukan berhasil atau tidaknya pembangunan. Kalau ingin Kota Semarang lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas, seorang sekretaris daerah harus bisa memerankan dirinya secara optimal sesuai dengan aturan yang ada.

Sudah saatnya wacana mengenai Kota Semarang dipimpin seorang perempuan digulirkan. Soal siapa yang pantas menjadi pemimpin, serahkan pada aturan yang berlaku. (Sri Rahayu, peneliti pada LSM Insani)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s