Kembangkan Konsep ‘One Village One Product’

JAKARTA – Kementerian Negara Koperasi dan UKM segera menerapkan konsep “one village one product” atau satu desa satu produksi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat dan Wonosobo, Jawa Tengah untuk produk serat rami demi meningkatkan kualitas produk dan pendapatan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

“Dalam waktu dekat ini kami akan usulkan konsep ini ke kedua Pemerintah Daerah (Pemda) setempat agar mereka bisa turut terlibat dalam proyek ini,” kata Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Sri Ernawati, di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan, kedua daerah tersebut yaitu Kabupaten Bandung dan Wonosobo mempunyai potensi yang kuat untuk dikembangkan sebagai desa produsen serat rami baik dari segi sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

Oleh karena itu, pihaknya akan secepatnya mengusulkan kepada Pemda setempat agar mendukung kedua wilayah menjadi desa yang konsern memproduksi serat rami.

Konsepnya, warga setempat yang memproduksi rami akan sekaligus mengolahnya dengan lebih dahulu diberi perkuatan modal oleh pemerintah, kemudian produk dibeli kembali oleh pemerintah. “Supaya mereka kuat lebih dahulu maka produk-produknya harus kita beli dulu,” katanya.

Menurut dia, Pemda menjadi pihak utama dan terpenting dalam pengembangan konsep satu desa satu produksi terlebih di era otonomi daerah. “Inisiatif Pemda itulah yang lebih menentukan, sedangkan dari kami hanya mengusulkan saja,” katanya.

Konsep satu desa satu produksi, katanya, bila dijalankan secara serius dan konsisten terbukti mampu meningkatkan kinerja UKM sekaligus memberdayakan masyarakat setempat.

Hal itu sudah terbukti di sejumlah negara yang menerapkannya, seperti di Jepang dan Thailand.

Pihaknya telah dua kali menerapkan konsep serupa yang di Jepang disebut, Isson Ippin yaitu di Kabupaten Blitar dan Bangli. Di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dikembangkan desa sentra belimbing yang diolah langsung menjadi sejumlah produk turunan seperti jus, keripik buah, dan lain-lain.

“Pemda setempat sangat mendukung, mereka daripada memberikan program BLT (Bantuan Langsung Tunai) justru lebih memilih membelikan masyarakat bibit buah belimbing untuk dikembangkan,” katanya.

Sedangkan di Bangli dikembangkan, sentra produksi kopi dan nangka. Di kedua daerah itu sistem satu desa satu produk masih terus dijalankan dan dievaluasi hingga kini. Dari evaluasi terakhir, kedua wilayah tersebut semakin maju, demikian Sri Ernawati.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s