Anas Effendi Diperiksa 6 Jam

JAKARTA – Terkait dugaan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) atas pengadaan barang dan jasa jenis filing cabinet anti api di Pemkot Jakarta Selatan, Sekretaris Kotamadya Jakarta Selatan, Anas Effendi SH MM, Selasa (11/3) lalu, harus menjalani pemeriksaan sekitar enam jam di Kejaksaan Negeri (Kejari ) Jakarta Selatan.

Selain Anas, dalam pemeriksaan yang dilakukan jaksa penyidik kasus dugaan korupsi sebesar Rp2,8 miliar, juga ikut diperiksa Kepala Bagian Administrasi Wilayah Jaksel Paryanto dan Ketua Panitia Lelang Jaksel Tri Wicaksono.

Kejaksaan juga melakukan pemeriksaan terhadap pimpinan perusahaan yang mengajukan surat penawaran harga (SPH) atas pengadaan barang dan jasa filing cabinet anti api itu.

Informasi yang diperoleh di Kejari Jaksel dan Pemkodya Jaksel, Anas yang menjalani pemeriksaan sebagai saksi selama enam jam itu hanya disodorkan empat pertanyaan oleh jaksa penyidik. Dua di antaranya soal tupoksi jabatan sekodya dan keterlibatan atas pengadaan filing cabinet anti api.

Dari empat pertanyaan yang diajukan, Anas Effendi mengaku tidak pernah tahu dan terlibat dalam proyek pengadaan filing cabinet anti api. Ketika kasus tersebut bergulir dirinya saat itu masih menjabat sebagai Asisten Keuangan dan Umum Jakarta Selatan, tidak pernah menerima proses verbal (tidak ikut ACC, red).

Menurut sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya, Anas Effendi bisa dikatakan tidak terlibat secara langsung dalam kasus tersebut. Tetapi ada dugaan, ikut bermain dibelakang layar (dalang, red) dengan pihak terkait yang memiliki wewenang atas perusahaan yang dimenangkan.

Dalam waktu dekat, pihak penyidik kejaksaan akan memanggil Wakil Walikotamadya Jakarta Selatan Budiman Simarmata, terkait kasus tersebut. Dirinya dipanggil yang kedua kalinya. Sebelumnya, pernah diperiksa pada Maret 2007 tahun lalu dalam kapasitas sebagai saksi dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi tersangka. “Mungkin minggu ini, atau minggu depan,” ungkap sumber.

Dalam kasus pengadaan korupsi pengadaan 100 unit filing cabinet anti api di lingkungan Pemkodya Jaksel, selain adanya selisih harga yang ditawarkan/ditetapkan panitia lelang dengan harga pasaran, juga adanya dugaan sebanyak 16 perusahaan yang mendaftar ikut pelelangan proyek tersebut adalah bodong.

Dari ke 16 perusahaan tersebut, sebanyak 10 perusahaan dinyatakan lulus mengikuti pelelangan proyek, namun hanya empat perusahaan yang benar, selebihnya bodong. Empat perusahaan tersebut yang akhirnya mengajukan surat penawaran harga (SPH) ke penitia lelang, kemudian ditetapkan satu perusahaan yang menang atas proyek itu.

Sementara ketiga perusahaan lainnya, kabarnya hanya diberikan uang konpensasi atas perusahaan yang disertakan oleh oknum pejabat di Pemkodya Jaksel. Bisa dilakukan oleh Ety selaku Kasubag Pengadaan Barang Bagian Umum Jaksel atas penekan pihak atasan.

Sementara itu, kedatangan Anas Effendi ke Kejari Jaksel menambah daftar pejabat dan staf Pemkodya Jaksel yang diperiksa Jaksa Penyidik dalam upaya membongkar kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa filing cabinet anti api.

Sebelumnya sudah dipanggil, Syahlani (Kabag Hukum dan Perlengkapan), Ety Sumiati Kasubag Pengadaan Barang Bagian Perlengkapan dan stafnya Sugeng, Ketua Panitia Lelang Jaksel Tri Wicaksono, serta anggotanya Eko, dan Mundanto. maruf ridwan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s