Bojonegoro, Tuban, Lamongan Siaga III

BOJONEGORO – Meski permukaan air Bengawan Solo di daerah hulu (Jawa Tengah) dan wilayah Jawa Timur (Ngawi dan Karangnongko, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro) mulai surut, namun Bojonegoro wilayah timur, termasuk kabupaten Tuban dan Lamongan masih berstatus Siaga III-kritis.

“Apalagi jalan yang berfungsi sebagai tanggul di Desa Semambung, Kecamatan Kanor jebol kembali sepanjang 80 meter,” kata Koordinator Pengamanan dan Pengendalian Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo, Moelyono di Bojonegoro, Kamis.

Menurut dia, ada dua faktor penyebab sulitnya air banjir itu surut, yakni akibat air pasang dan sudetan Sedayu Lawas ke Laut Jawa (hilir) sepanjang 13,5 km mengalami pendangkalan.

Akibat pendangkalan sudetan yang mampu mengalirkan debit air Bengawan Solo sebesar 640 m3/detik itu, hanya bisa mengalirkan air ke laut sekitar 300 m3/detik.

“Itupun masih ditambah air laut pasang, sehingga air banjir di daerah Laren, Lamongan, yang masuk ke sudetan kembali lagi ke Bengawan Solo,” katanya menambahkan.

Di Bojonegoro, hingga sore ini masih masuk siaga III dengan ketinggian air mencapai 15,35 m (pada papan duga) pada pukul 15.00 WIB, dengan perkiraan debit banjir sebesar 2.574 m3/detik.

Sementara di Tuban dan Lamongan, akibat limpahan air dari anak sungai Bengawan Solo, debit air banjir semakin besar, sehingga masuknya air banjir ke muara di wilayah Sembayat, Gresik, juga mengalir ke Laut Jawa memperlambat surutnya banjir.

Data semetara dari Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Pemkab Bojonegoro, banjir di Bojonegoro telah merendam 111 desa yang tersebar di 15 kecamatan.

Sedangkan pemukiman warga yang tergenang air dengan ketinggian mulai 0,50 m hingga 1,5 m tercatat 20.726 unit dan 20.726 jiwa penghuninya terpaksa mengungsi.

“Sebagian diantaranya sudah kembali ke rumah, karena di wilayah barat air sudah surut,” kata Koordinator Satgas PBP Pemkab, Pudjiono.

Disamping itu, banjir juga merendam areal tanaman padi seluas 4.027 ha dengan usia tanam berkisar 20-30 hari, 142 tempat ibadah dan 36 lembaga pendidikan.

“Kerugian masih belum bisa dihitung, karena banjir masih berlangsung. Yang jelas, areal tanaman padi yang terendam banjir rusak, karena genangan banjir lebih dari tiga hari,” katanya menegaskan.

Jebol
Secara terpisah, Petugas Satlak PBP Kec. Kanor, Cholik menyatakan, jalan raya yang berfungsi sebagai tanggul di Desa Semambung, Kec. Kanor, Kamis (13/3) pagi tadi, jebol sepanjang 80 m.

Ratusan KK, warga di sejumlah desa mulai Prigi, Semambung, Kanor dan sekitarnya di Kec. Kanor, yang pemukimannya terendam banjir, melakukan pengungsian di atas tanggul maupun tempat ibadah dengan membuat tenda darurat.

“Ribuan ha areal tanaman padi berusia sekitar 25 hari tergenang banjir, karena jebolnya tanggul itu. Sedangkan banjir akhir Desember 2007 lalu menyebabkan tanaman padi yang hampir panen rusak berat,” katanya mengungkapkan.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s