Pembangunan Tol Semarang-Solo tak Layak

SEMARANG – Pembangunan jalan tol Semarang-Solo sepanjang 76,375 km tidak layak dilakukan dari kajian lingkungan strategik karena tidak ada keuntungan signifikan dan berkelanjutan bagi masyarakat yang terkena langsung dampak proyek tol.

Menurut S.Rahma Mary H. dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang di Semarang, Rabu, yang akan diuntungkan dengan pembangunan tol Semarang-Solo adalah para pengguna mobil pribadi, investor, kontraktor, konsultan, rekanan, pemerintah daerah yang terkait sebagai panitia proyek tersebut.

Ia mengatakan hal tersebut pada “Wednesday Forum” tentang berbagai persoalan dalam pembangunan jalanan tol Semarang-Solo di Unika Soegijapranata Semarang.

Bagi masyarakat umum, katanya lebih lanjut, barangkali bisa menghemat waktu, tetapi ada biaya yang harus mereka keluarkan untuk jalan tol yang sifatnya komersial.

“Secara komprehensif, penghilangan-penghilangan sumber daya lebih berpengaruh bagi masyarakat umum. Bahkan ada ancaman bencana alam maupun bencana kemanusiaan yang lebih besar jika proyek ini jadi dilaksanakan,” katanya.

Ia mengatakan, petani adalah golongan terbesar dari masyarakat yang akan terkena dampak proyek tol. Selain mengorbankan tanah pertanian dan hutan, proyek tol juga akan mengorbankan perumahan penduduk dan industri kecil seperti pertokoan, warung makan, mebel, peternakan, dan kerajinan.

Dampak langsung lain adalah tergusurnya fasilitas umum dan fasilitas sosial seperti lapangan , pemakaman, dan fasilitas pendidikan. Selain itu juga ada pabrik yang mempekerjakan banyak buruh, pemilik rumah kos untuk para buruh, orang-orang yang tergantung hidupnya pada pabrik seperti pedagang kecil yang berjualan makanan untuk para buruh pabrik.

Menurut dia, di wilayah kabupaten Semarang terdapat empat pabrik yang terkena tol Semarang-Solo. Terdapat ratusan buruh dan pedagang yang terancam kehilangan mata pencahariannya jika pabrik direlokasi. Tidak ada jaminan bagi petani, buruh, dan pedagang apabila mereka kehilangan pekerjaannya.

“Padahal mereka juga menanggung hidup keluarganya masing-masing. Secara langsung, kehilangan mata pencaharian kepala keluarga akan berdampak pada penurunan kualitas hidup masyarakat korban jalan tol, seperti kualitas kesehatan, kualitas pemenuhan kebutuhan hidup/ primer, dan kebutuhan pendidikan,” katanya.

Ia mengatakan, proyek tol Semarang-Solo adalah mega proyek yang pembangunannya pasti akan menimbulkan dampak lingkungan. Mega proyek ini meliputi enam kabupaten/kota, tidak kurang 10.600 kepala keluarga akan terkena dampak pembangunannya. Dampak yang akan terjadi, antara lain dampak ekologi, sosial ekonomi, dan sosial budaya.

Proyek tersebut juga akan menghilangkan lahan pertanian produktif berupa areal persawahan sekitar 3.135.063 m2 dan juga hilangnya kawasan hutan seluas 2.683.751 m2.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s